Saturday, July 9, 2022

PT MAP Tertangkap Basah, Diduga Limbah Cair Sengaja Digelontorkan ke Selokan

 

Kab Bandung, Matainvestigasi.com – Para Pelaku Usaha ternyata masih belum serius dalam menyingkapi apa itu program citarum, hanya bisa mengucap saya mendukung citarum harum. Fakta di lapangan masih saja terjadi upaya pencemaran Aliran Sungai yang akan menjadi dampak lingkungan dan bisa saja menghambat suksesnya program pusat sebagai percontohan untuk Dunia, Jumat (08/07).

Jauh hari sebelumnya Pt. Multi Adira Plasindo (MAP) yang berlokasi di Komplek Kawasan Industri De Prima Terra Tegalluar Bojongsoang sudah pernah di peringati bahkan sempat di sidak dalam pendataan produksi biji plastiknya, namun masih belum bisa berkomitmen dalam upaya pencegahan pencemaran aliran sungai.

Diduga Pt. MAP sengaja buang limbah cair hasil cucian kabel plastik ke selokan, dengan buih putih susu dan agak kental. Sementara Satgas Citarum Harum masih baru dan hangat memberi arahan dan pendataan untuk menjaga jangan sampai hasil limbah cucian gilingan plastik di buang langsung ke selokan, harus di tampung dan tidak boleh sembarang buang.

Michael Edbert pihak Pt. MAP menjelaskan, “iya ini kecolongan, nyuci bahan putih, biasa ga dicuci, sudah dihentikan, itu kulit kabel putih cuma 1 karung dan bahan mentah 1 karung sekitar 25 kg, ini yang nyucinya kecolongan dan sudah saya peringatkan, saya katakan itu nyuci harusnya gak boleh langsung dibuang, “jelasnya lewat pesan singkat.

Di sisi lain, pihak DLH soreang akan mengagendakan untuk datang dan memeriksanya, “saya di pasir jambu kang nangani pacira sama tim badega nanti saya kerahkan dulu, kalau satgas sudah tau kang? Senin atau besok kita kesana kang, sudah di plot, “pungkas Robi.

Dari satgas citarum lewat Peltu Ade Nursaiman mengatakan, “besok saya datangi akan segera cek bersama jajaran, “ucapnya. (Red)

Pengangkutan Kohe Cipaku Banjaran Diduga Ada Pungli Dengan Meminta Pungutan ke Warga


Kab Bandung, Warnus – Pembersihan Kotoran Hewan (Kohe) Kp. Cipaku Rt01/03 Desa Tarajusari Kecamatan Banjaran di eluhkan warga, pasalnya ada pungutan biaya bervariasi dalam pembersihan dan pengangkutannya dengan berbagai alasan agar dana warga bisa di tarik atau terkumpul oleh salah satu kordinator di lapangan, Jumat (08/07).

Awalnya penawaran pembersihan dengan menjanjikan bangun bak sampah di lokasi sekitar, terpikir hanya sampah warga saja, ternyata menyerempet pada kohe, dan meminta anggaran 1 juta pada warga untuk pembersihan dan pengangkutannya.

Pembersihan dan pengangkutan kohe yang berdekatan dengan anak sungai cisangkuy (citaluktug) alami polemik, pasalnya ada pungutan dana yang masih di pertanyakan, dengan alasan biaya penarikan, sewa loader, tambal ban loader dan lain-lain.

Menurut keterangan Ketua Rw 03, “bahwa giat pembersihan dan pengangkutan kohe kp cipaku warga dimintai dana, dengan alasan bayar mobil, sewa loader, tambal ban bocor dan lain-lain, dan pengangkutan kohe juga tidak semua terangkut, “ungkapnya.

Saya mau bertanya, lanjut Ketua Rw 03, “apakah yang seperti itu harus bayar atau di pungut anggaran?, harusnya kan ada keterbukaan karena memang warga juga menginginkan lingkungan bersih, kalau cuma sampah warga yah mungkin bisa saja di tarik iuran, kadang program juga di sembunyikan, program citarum juga kita dukung, “ucapnya.

Dansektor 21 Kol Arh Wahyu. J mengatakan, “Kalau sampah itu menggunakan truk kita, truk kita gak diisi bensin kita sifatnya bantu armada tapi tidak disertakan bbm nya, ya desa yang beli bbm nya. Tidak ada kerja sama dengan dinas lain, berarti itu murni dari pemda, dan Itu ya kendaraan PU sendiri, ok itu aja tq infonya, “lewat pesan singkat. (Red)

Sidak ke Lokasi Pergudangan, Sektor 6 Satgas Citarum Temukan Ratusan Karung Limbah Plastik PT MAP

 

BANDUNG – Terletak di kawasan Industri Pergudangan De Prima Terra Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung Sektor 6 Satgas Citarum Harum melakukan Sidak Gudang-gudang milik perusahaan industri.

Petugas TNI dari Sektor 6 juga melakukan pendataan mengenai peruntukan gudang-gudang tersebut.

Berdasarkan pentauan dilokasi, Satgas Citarum Sektor 6 menemukan gudang milik PT Multi Adira Plasindo (MAP) yang menyimpan puluhan karung limbah gilingan plastik.

Sidak yang dipimpin langsung oleh Peltu Ade Nursaiman itu, disimpulkan bahwa kawasan pergudangan di De Prima Tegalluar terdapat 200 tempat yang dijadikan pergudangan oleh perusahaan Industri.

Kendati begitu, ketika dilakukan monitoring, kawasan gudang tersebut kondisinya sangat kumuh dan banyak ceceran minyak diselokan. Terutama sampah plastik banyak berserakan.

“Saya juga melihat kawasan yang luas ini sangat kotor, ada seperti minyak lemak dan bercak lainnya, terutama sampah plastik sisa makanan dan pengendapan lumpur sedimentasi yang cukup tinggi” ungkap Ade.

Ketika melakuan sidak di gudang milik PT MAP yang bergerak dipengelolaan limbah plastik, kondisinya sangat tidak terawat dan berdebu.

Selain itu, hasil pembuangan dari proses pembersihan limbah plastik, tidak memiliki pengelolaan limbah. Padahal sangat jelas limbah plastik ini mengandung karbon. Apalagi limbah plastik ini berasal dari kabel-kabel bekas.

‘’Jadi sidak kali ini, Satgas Sektor 6 melakuan monitoring untuk mengingatkan kepada perusahaan-persusahaan yang memiliki gudang agar menjaga lingkungan,’’Kata Ade.

Selain itu, lanjut Ade, monitoring dilakukan agar perusahaan yang memiliki gudang tidak membuang limbahnya ke aliran sungai. Jika teguran ini diindahkan maka pihaknya tidak segan-segan untuk menindak.

Mendapat teguran dari Satgas Citarum Sektor 6. Perwakilan PT MAP yang bernama Michel mengaku, bahwa gudang penyimpanan limbah kabel plastik merupakan bahan baku untuk diolah kembali.

Limbah olahan kabel plastik ini sudah melalui proses penggilingan dengan berbentuk serbuk dan mudah terbawa angin.

Dia mengaku, pernah dikomplain oleh masyarakat karena sebuk limbah olahan membuat lingkungan sekitar berdebu. Namun, pergudangan miliknya sudah diperbaiki dengan menutup rapat seluruh ventilasi.

“ini debu karbon hitam yang banyak numpuk di produksi, dan itu bisa di pakai. Dulu memang debunya keluar dan pernah di komplen, namun saat ini kita tutup agar debu karbon tidak terbang ke luar, “ucapnya.

Sementara itu, untuk air cucian dan gilingan limbah kabel plastik ditampung terlebih dahulu dan dimasukan ke dalam drum dan dikirim ketempat pengelolaan IPAL.

‘’Jadi disimpan dulu di drum lalu di angkut mobil pick up keluar, kadang 1 bulan sekali, dan yang di tempat produksi yang sudah memiliki IPAL,’’ ujarnya.

‘’Untuk air yang terbawa keluar cuma dikit, dan itu air bilasan kabel plastik saja, karyawan pun sudah pernah kita kasih K3, minimal masker, namun mereka terbiasa kerja seperti itu, pakai masker katanya engap, “tambahnya lagi.

Sektor 6 Sidak dan Pendataan, PT MAP Diduga Bisa Cemari Lingkungan, DLH Diminta Cek Bersama

 

Kab Bandung, Warnus – Kawasan Industri De Prima Terra Tegalluar Bojongsoang di data Satgas Citarum Harum Sektor 6. Kawasan yang dulunya pergudangan berganti menjadi industri, dalam giatnya satgas citarum melakukan sidak sekaligus pendataan pabrik atau gudang yang ada di dalam kawasan tersebut, Kamis (07/07).

Tampak di lokasi Kawasan Industri Peltu Ade Nursaiman bersama jajaran sedang melakukan sidak dan pendataan yang menjadi teritorial sektor 6. Satgas citarum melakukan monitoring di dalam kawasan, dan salah satunya pabrik gilingan plastik Limbah Kabel Pt. Multi Adira Plasindo (MAP).

Menurut Peltu Ade Nursaiman yang menjadi suara Dansektor 6 Kol Arh M. Zaini mengatakan, “kawasan industri ini bukan hanya satu pabrik, tetapi sekitar 200 Pabrik atau gudang, berdasarkan informasi dari pihak pengelola kawasan industri de prima terra.

“Saya juga melihat kawasan yang luas ini sangat kotor dan kumuh, tampak paritnya penuh sampah dan juga ada sebagian seperti minyak lemak dan bercak lainnya, terutama sampah plastik sisa makanan dan pengendapan lumpur sedimentasi yang cukup tinggi” ungkap Ade.

Kita juga, lanjut peltu ade, “meninjau masuk Pt. MAP yang bergerak di bidang gilingan plastik kabel, yang dulu juga pernah kita sidak, di ketahui Pt MAP sangat kotor dengan banyaknya debu karbon sisa penggilingan kabel plastik, belum lagi hasil dari cucian plastik, yang sempat limbah cuciannya keluar masuk aliran parit beberapa waktu lalu.

Hari ini, kita kembali melakukan monitoring agar hal-hal yang sifatnya berpotensi mencemari sungai dan lingkungan, pelaku industri harus melakukan evaluasi maksimal agar tidak mencemarkan lingkungan dari hasil olahan limbahnya.

Michel perwakilan dari Pt MAP menjelaskan, “ini debu karbon hitam yang banyak numpuk di produksi, dan itu bisa di pakai. Dulu memang debunya keluar dan pernah di komplen, namun saat ini kita tutup agar debu karbon tidak terbang ke luar, “ucapnya.

“Air cucian dan gilingan limbah kabel plastik yang masuk di drum memang di angkut mobil pick up keluar, kadang 1 bulan sekali, dan yang di tempat produksi ada ipalnya, air tang terbawa keluar cuma dikit, dan itu air bilasan kabel plastik saja, karyawan sudah pernah kita kasih K3, minimal masker, namun mereka terbiasa kerja seperti itu saja, pakai masker katanya engap, “kata michel. (Red)